Sabtu, 22 Februari 2020

"Hukum Shalat Di Pesawat."

Diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudri RA, Nabi SAW bersabda :

".الأرض كلها مسجد الا المقبرة والحمام" 

Artinya : "Semua permukaan bumi adalah masjid (bisa dijadikan tempat shalat) kecuali kuburan dan hammam (toilet)."

[H.R.Turmudzi].

Dengan hadist ini, 'ulama Al-Malikiyyah berpendapat tidak boleh shalat diatas pesawat, karna tidak bersetubuh dengan bumi.

Tuan guru kami, yakni Asy-Syaikh Muhammad Ahyad Al-Bughuri (Asy-Syafi'i) menyatakan boleh-nya shalat dipesawat karna sempurna-nya syarat dan rukun-nya, dan Nabi SAW (juga) shalat diatas kendaraan-nya (Unta-nya).

Asy-Syaikh Ahmad Al-Harsani, berkata : "Istidlal (menjadikan dalil) dengan shalat-nya Nabi SAW diatas unta-nya , untuk boleh-nya shalat diatas pesawat adalah tertolak, karna unta bersetubuh dengan bumi, sedangkan pesawat terbang tidak bersetubuh dengan bumi."

Teman saya; Asy-Syaikh Abdul Hamid Amin mengajukan surat kepada Tuan Guru Asy-Syaikh Muhammad Ahyad, yang isi-nya tentang tidak boleh-nya shalat diatas angkasa (Al-Hawa).

Asy-Syaikh Muhammad Ahyad, berkata : "Shalat diatas angkasa memang tidak boleh karna tidak bisa sujud, beda hal-nya (jika) didalam pesawat terbang, didalam pesawat bisa berdiri dan bisa sujud."

Diantara 'ulama Mekkah yang tidak membolehkan shalat didalam pesawat adalah Asy-Syaikh Muhammad Ali Al-Maliki, seperti yang disampaikan sahabat saya, yakni Asy-Syaikh Abdul Hamid Amin.

[Kitab Misbah Adz-Dzalam Syarah Bulughul Maram, Karangan Asy-Syaikh Muhadjirin Amsar Addari (Bekasi), Jilid I, Hal.164].

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

Jumat, 21 Februari 2020

"Do'a Sukses Ujian Nasional (Untuk Para Siswa/i Atau Mahasiswa/i)."

Oleh : Al-Ustadz Muhammad Fadhil Ichsan, S.Pd.I (Pimpinan Majlis Mushayyana Almadad, Jepara).

Bagi yang memiliki adik, saudara, kawan yang hendak menempuh Ujian Nasional (UN), atau seleksi kerja, dan test lain-nya. Saya (Al-Ustadz M.Fadhil Ichsan, S.Pd.I) ijazahkan secara umum do'a sukses ujian ini.

Semoga menjadi Amal Jariah bagi saya dan pengijazah do'a ini, Guru Mapel PAI (Pendidikan Agama Islam) ketika ketika saya masih bersekolah di SMKN 58, Bambu Apus, Jakarta Timur sejak 2008 lalu, beliau; Drs.H.Usmin, M.Ag. Semoga Allah memberikan pahala yang besar untuk beliau karena asbab ilmu yang beliau ajarkan, termasuk do'a ini.

Dulu, kami diajarkan do'a ini menjelang Ujian Nasional. Dan Alhamdulillah hingga detik ini (sejak diijazahkan secara talqin oleh beliau) saya masih hafal do'a ini.

Dibaca setiap ba'da shalat fardhu menjelang ujian dan Nishfullail (sepertiga malam) dan sebelum mengerjakan soal ujian.

Awali dengan basmalah, istighfar, dan shalawat 3 kali, dan baca do'a-nya sebagaimana tata cara yang tertulis dibawah ini :

اللهم انجحنا في الإمتحان ٣×
يا عليم، علمنا ما لا نعلم ٣×
يا رفيع، إرفع درجاتنا ٣×
يا رشيد ألهمنا رشدا و احينا مع الراشدين ٣×

Allahumma Anjihnaa Fiil Imtihaan, 3 kali.
Yaa 'Aliimu, Allimnaa Maa Laa Na'lamu, 3 kali.
Yaa Rafii'u Irfa' Darajaatinaa, 3 kali.
Yaa Rasyiidu, Alhimnaa Rasyadaa, Wa Ahyinaa Ma'arraasyiidiin, 3 kali.

Semoga Allah SWT mudahkan bagi yang sedang menempuh ujian, bagi para siswa, mahasiswa, atau yang hendak tes kerja dimanapun berada.

***

Saya (Muhammad Ghozali Siregar) mendapatkan Ijazah do'a ini dari Al-Ustadz Muhammad Fadhil Ichsan, S.Pd.I melalui pesan WhatsApp, pada 22 Februari 2020, pukul 13:47 - 14:42 WIB.

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

Kamis, 20 Februari 2020

"Muballigh Bukanlah 'Ulama."

Oleh : Dr.Abdi Kurnia Djohan, SH, MH (Dosen Pasca Sarjana di Universitas Indonesia [UI] dan Wakil Sekretaris LDNU 2015-2020).

Muballigh itu bukan 'Ulama. Karena untuk menyampaikan ceramah agama, yang dibutuhkan adalah kepandaian retorika. Saya pernah bertemu penceramah yang bisa dikatakan ilmu-nya (hanya) itu-itu saja. Tiga kali saya ikuti ceramah-nya, yang disampaikan itu-itu lagi. Candaan-nya tidak jauh dari selangkangan perempuan. Sampai-sampai saya hafal dikalimat mana dia akan melempar Joke-nya. 

Jika dilihat dari persentase-nya, jumlah muballigh saat ini mengalahkan jumlah 'ulama. Namun sayang-nya, masyarakat kita tidak bisa membedakan muballigh dan 'ulama ('Alim). Penilaian-nya dipukul rata; pintar dalil, pandai bicara, dan penampilan meyakinkan bak Wali Sanga sudah pasti dianggap 'alim, walaupun hakikat-nya dilevel muballigh. 

Sedangkan seorang 'alim, jauh dari kesan-kesan publisitas dan glamor seperti itu. Kealiman seseorang tidak diukur dari kepandaian-nya beretorika. Buya Hamka dan Mu'allim Syafi'i Hadzami merupakan contoh 'alim yang tidak pandai beretorika. Mu'allim Syafi'i Hadzami, menurut penuturan beberapa murid-nya, jika menyampaikan ceramah tidak menarik. Sebab, beliau tidak pandai memanipulasi ucapan dengan gimmick dan gesture yang menarik perhatian. 

Tapi itu bukan berarti Mu'allim Syafi'i Hadzami tidak berilmu. Keilmuan beliau diketahui sangat luas. Beliau dikenal sebagai satu dari sekian banyak 'ulama Indonesia yang Mutafannin (menguasai banyak disiplin dan detail ilmu agama). Fatwa-fatwanya yang diberi judul 'Taudlihul Adillat' (penjelasan dalil-dalil) menggambarkan kedalaman ilmu Mu'allim Syafi'i Hadzami. 

Selain dari kedua 'ulama diatas, Mbah Kiai Sahal (K.H.Sahal Mahfudz) juga dikenal sebagai mutafannin yang tidak pandai retorika. Secara umum, jumlah 'ulama yang pandai retorika tidaklah banyak. Namun, sekali lagi retorika itu bukan ukuran kealiman. Ukuran kealiman yang pertama adalah konsistensi (istiqamah) dengan ajaran yang disampaikan. Dan ini merupakan parameter yang berat.

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

"Shalawat 'Azhimiyyah (Assayyid Ahmad Bin Idris Alhasani (Thariqat Idrisiyyah))."

Asy-Syaikh Yusuf Bin Ismail Annabhani, berkata, 'Al-Imam Ahmad Bin Idris RA telah menerima Shalawat ini dari Rasulullah SAW dengan Talqin secara langsung tanpa perantara sebanyak satu kali dan beliau juga ditalqin secara langsung oleh Sayyidinaa Khidir 'Alaihissalaam satu kali.'

Assayyid Al-Habib Muhammad Al-Haddar, mengatakan : 'Siapa orang yang membaca Shalawat 'Azhimiyyah 3 kali, maka dia akan mimpi bertemu Nabi SAW.'

Assayyid Muhammad Bin Alwi Almaliki, berkata : 'Siapa orang yang membaca-nya sebanyak 7 kali (ada yang mengatakan 70 kali) sebelum waktu Shubuh, maka ia dapat berguna untuk mimpi bertemu Nabi SAW." [Habib Husein Muhammad Syadad Bin Umar, Do'a-Do'a Bertemu Nabi SAW, Hal.146, Pustaka Hidayah].

Para 'Ulama Ahli Asrar menyatakan : 'Siapa saja yang membaca Shalawat 'Azhimiyah 92 kali, maka shalawat itu tak ubah-nya bagaikan pedang yang tajam sehingga dengan cepat mengabulkan segala hajat-nya secepat pedang tajam memutuskan leher binatang sembelihan.'

Ada sebuah peristiwa menakjubkan sehubungan dengan shalawat ini. Al-Arifbillah Al-Habib Abu Bakar Bin Abdullah 'Atthas memperoleh shalawat ini dari 'Assayyid Ahmad Bin Idris' secara langsung. Beliau lalu menulis shalawat ini dan menyimpan-nya dalam tas pakaian. Sewaktu berlayar dilaut, seorang Darwisy ahli sir batin dan kasyaf melihat cahaya keluar dari tas Habib Abu Bakar hingga ke langit. Ia lalu memberitahukan apa yang dilihat-nya kepada Habib Abu Bakar. Habib Abu Bakar berkata kepada-nya, 'Tas ku ini hanya berisi pakaian dan shalawat.' Habib Abu Bakar lalu menunjukan sholawat itu kepada si Darwisy. 

Assayyid Ahmad Syarif Assanusi RA meriwayatkan bahwa Assayyid Muhammad Bin Ali Assanusi RA suatu ketika menerangkan keutamaan membaca Shalawat 'Azhimiyyah, bahwa sesungguh-nya membaca Shalawat 'Azhimiyyah sekali menandingi bacaan Kitab Shalawat Dala'ilul Khairat sebanyak 33.333 kali. Ditanyakan mengapa demikian?? Karena keutamaan Shalawat 'Azhimiyyah itu disebabkan keutamaan para guru-guru RA (yang meriwayatkan-nya). 

Al-Habib Ahmad Bin Hasan RA, berkata : 'Aku memberi salah seorang Sadah (keturunan ahlul bait) ijazah untuk membaca shalawat ini, setelah ia meninggal dunia, aku mimpi bertemu dengan-nya, ia berkata kepada ku,  'Ketika jasad ku diletakkan dikubur, datang makhluk yang menakutkan dari alam barzakh, Shalawat Agung ('Azhimiyyah) ini melindungi ku hingga lenyaplah rasa takut dari hati ku'.'

Diriwayatkan bahwa salah seorang pengikut Thariqah Idrisiyah meninggal di kota Makkah dan dikuburkan dipekuburan Ma'la. Saat jenazah-nya diturunkan, ternyata orang yang memasukkan janazah-nya ke lubang lahad adalah seorang Ahli Kasyaf (telah terbuka hijab-nya) tiba-tiba ia melihat ada malaikat yang datang membawa ranjang dan lampu-lampu dari surga lalu membentangkan lubang kuburan-nya sehingga menjadi luas sejauh mata memandang. Si ahli kasyaf sangat takjub dengan kemuliaan yang diberikan kepada mayyit, lalu ia berkata dalam hati-nya, 'Aduhai seandai-nya nanti aku meninggal, aku berharap Allah Ta'aalaa memberikan juga kepada ku kemuliaan seperti ini.' Tiba-tiba malaikat berkata, 'Diantara kalian akan mendapat kemuliaan ini dengan barakah Shalawat 'Azhimiyah yang kalian baca.'

Ada yang mengatakan bahwa siapa mendawamkan Shalawat 'Azhimiyyah ini dengan istiqamah minimal setiap harinya 1 kali (dibaca 1x habis shalat) maka apabila ia mati maka kuburan-nya akan disinari dengan cahaya atau lampu dari surga dan dilapangkan kubur-nya. 

Inilah Shalawat 'Azhimiyyah :  

بسم الله الرحمن الرحيم

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْاَلُكَ بِنُوْرِ وَجْهِ اللهِ الْعَظِيْمِ ، اَلَّذِيْ مَلأَ اَرْكَانَ عَرْشِ اللهِ الْعَظِيْمِ ، وَقَامَتْ بِهِ عَوَالِمُ اللهِ الْعَظِيْمِ ، اَنْ تُصَلِّيَ عَلىَ مَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ ذِيْ الْقَدْرِ الْعَظِيْمِ ، وَعَلىَ آلِ نَبِيِّ اللهِ الْعَظِيْمِ ، بِقَدْرِ عَظَمَةِ ذَاتِ اللهِ الْعَظِيْمِ ، فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَماَ فِيْ عِلْمِ اللهِ الْعَظِيْمِ ، صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ اللهِ الْعَظِيْمِ ، تَعْظِيْماً لِحَقِّكَ يَامَوْلاَناَ ياَمُحَمَّدُ ياَ ذَالْخُلُقِ الْعَظِيْمِ ، وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِه مِثْلَ ذَلِكَ ، وَاجْمَعْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ كَماَجَمَعْتَ بَيْنَ الرُّوْحِ وَالنَّفْسِ ، ظاَهِرًا وَباَطِناً ، يَقْظَةً وَمَناَماً ، وَاجْعَلْهُ ياَرَبِّ رَوْحاً لِذاَتِيْ مِنْ جَمِيْعِ الْوُجُوْهِ ، فِي الدُّنْياَ قَبْلَ اْلآخِرَةِ ياَعَظِيْمُ

Artinya : 

"Yaa Allah, sesunggguh-nya aku memohon kepada Mu dengan cahaya Wajah Allah Yang Agung. Yang memenuhi tiang-tiang Arasy Allah Yang Agung. Dan dengan-nya berdirilah alam-alam (ciptaan) Allah Yang Agung. Agar shalawat tersampaikan atas pelindung kami, Muhammad SAW, yang memiliki derajat yang Agung. Dan atas keluarga nabi Allah Yang Agung. Dengan ukuran Keagungan Zat Allah yang Agung. Disetiap kedipan dan nafas, sebanyak apa yang termaktub dalam Ilmu Allah Yang Agung. Shalawat yang abadi dengan Kekekalan Allah Yang Agung, 
(sebagai) pengagungan terhadap Haq (kebenaran) engkau wahai Muhammad, yang memiliki akhlak (perangai) yang Agung. Dan salam atas beliau SAW serta keluarga-nya, semisal yang demikian itu. Dan satukanlah aku dengan beliau sebagaimana Engkau satukan ruh dengan nafas. Secara Zahir dan Batin, dalam keadaan terjaga (sadar) atau tidur (mimpi). Dan jadikanlah beliau Yaa Tuhan ku, sebagai ruhani jiwa ku, disetiap arah. Didunia ini sebelum (datang-nya) hari akhir, wahai Zat yang memiliki Keagungan."

Adapun sanad muttashil (yang bersambung) kepada Al-Imam Ahmad Bin Idris Alhasani RA yang saya miliki sebagai berikut :

الفقير غزالى حسن سيراغر المنديلي عن الحبيب محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس عن الحا رزقي ذو القرنين أصمت البتاوي عن العلامة المحدث مسند العصر السيد عبد الرحمن الكتاني الادريسي الحسني عن والده الحافظ السيد محمد عبد الحي الكتاني عن الشيخ ابي اليسر فالح المهنوي والشيخ القاضي احمد بن الطالب بن سودة والشيخ المعمر عبد الهادي ابن العربي العواد ثلاثتهم عن العارف بالله الشيخ محمد بن علي السنوسي الخطابي عن مؤسس الطريقة الادريسية الامام العارف بالله السيد احمد بن ادريس المغربي الحسني رضي الله عنه

Al-Hafizh Assayyid Muhammad Abdulhay Al-Kattani RA mengatakan bahwa sanad yang tersebut diatas merupakan sanad tertinggi yang sampai kepada Al-Imam Ahmad Bin Idris Alhasani RA.

Adapun sanad dari jalur yang lain-nya :

الفقير غزالى حسن سيراغر المنديلي عن الحبيب محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس عن الحاج رزقي ذو القرنين بن اصمت البتاوي عن كياهي الحاج ميمون بن زبير الساراني عن محدث الحرمين الشريفين العلامة المسند السيد محمد بن علوي بن عباس المالكي الحسني عن الشيخ ضياء الدين القادري المدني عن الشيخ احمد الريفي عن الامام محمد بن علي السنوسي عن الامام القطب احمد بن ادريس الحسني رضي الله عنه

Note : Al-Imam Assayyid Ahmad Bin Idris Alhasani RA dilahirkan di Maisur yaitu sebuah perkampungan didalam daerah 'Arayish, terletak dikota Fez (Morocco) pada bulan Rajab tahun 1163 H bertepatan tahun 1749 M. Namun ada riwayat pula yang menyebut bahwa beliau dilahirkan pada tahun 1172H/1757 M.

Nama lengkap beliau adalah Al-Imam Al-Arifbillah Assayyid Ahmad Ibn Idris Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Abdillah Ibn Ibrahim Ibn Umar Ibn Ahmad Ibn Abdul Jabbar Ibn Muhammad Ibn Yamluh Ibn Masyish Ibn Abu Bakar Ibn Ali Ibn Hurmah Ibn Isa Ibn Salam Ibn Marwan Ibn Haidarah Ibn Muhammad Ibn Idris Al-Asghar Ibn Idris Al-Akbar Ibn Abdullah Al-Kamil Ibn Al-Hassan Al-Mustanna Ibn Sayyidinaa Hassan Al-Sibt Ibn Saiyyidinaa Ali dan Saiyyidatinaa Fatimah Azzahra Binti Rasulillah Sayyidinaa Muhammad SAW.

Al-Imam Ahmad Bin Idris merupakan seorang wali yang telah mencapai maqam Quthub yaitu martabat yang tinggi dalam maqam wilayah (kewalian) dan juga dikatakan meraih maqam Sulthan Salatin Al-Auliya' (raja para wali). Selain itu beliau juga terkenal sebagai seorang 'ulama pembaharu (Mujadid). Beliau telah banyak menggembara dan berdakwah dijalan Allah serta menyebarkan ajaran Tariqah-nya ke berbagai tempat hingga ke Makkah, Madinah, Mesir, Sudan, Yaman, dan lain-lain.

Beliau wafat pada malam Sabtu diantara waktu Maghrib dan Isya' pada tanggal 21 Rajab. Murid beliau Assayyid Ash-Shalih Ahmad Ustman Al-'Uqaili ditunjuk untuk memandikan dan jenazah beliau telah dishalatkan oleh Al-'Allamah Al-Wali Assayyid Yahya Bin Muhsin Anni'ami Alhasani. Beliau dikebumikan pada tanggal 21 Rajab 1837 M/1253 H) di Sabya. Kota Sabya yang pada masa itu menjadi bagian negeri Yaman, namun sekarang sudah masuk dalam wilayah Saudi Arabia.

MP3 Shalawat 'Azhimiyyah. 

http://www.mediafire.com/file/bl3bmg03237bygw/shalawat_azhimiyyah_-_ahmad_ibn_idris_al-fasi_%28ra%29.mp3

Link Sholawat 'Azhimiyyah.

http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/2013/06/shalawat-azhimiyyah-as-sayyid-ahmad-bin_3.html

https://shulfialaydrus.wordpress.com/2013/06/03/shalawat-azhimiyyah-as-sayyid-ahmad-bin-idris-tarekat-idrisiyyah/

***

Saya (Muhammad Ghozali Siregar) mendapatkan ijazah Shalawat 'Azhimiyyah ini dari salah satu guru saya yang bernama Al-Habib Muhammad Shulfi Bin Abu Nawar Alaydrus saat menghadiri Majlis Ta'lim Nurussa'adah (Joglo), yang Insyaa Allah menyambung sampai ke Asy-Syaikh Ahmad Bin Idris (Thariqat Idrisiyyah), dan terus sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Yang mana beliau (Al-Habib Muhammad Shulfi Bin Abu Nawar Alaydrus) mendapatkan ijazah Shalawat 'Azhimiyyah dari Assayyid Muhammad Bin Alwi Bin Abbas Almaliki Alhasani, Asy-Syaikh Shalih Bin Muhammad Bin Shalih Al-Ja'fari Alhusaini, dan Baginda K.H.Rizqi Dzulqarnain Ashmat Albatawi (Pengasuh Yayasan Al-Mu'afah, Jln.Tipar Cakung).

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

Rabu, 19 Februari 2020

"Ajian Arjuna Kelor (Pengasihan)."

Oleh : Muhammad Ghozali Siregar (Pengasuh Majlis Ta'lim Wal Mudzakarah Nahdlatul Muta'allimiin).

Saya dapatkan ajian pengasihan ini dari seorang Guru Spiritual yang berdomisili di Kota Tangerang Utara.

Ajian ini memiliki tirakat, ketika kita ingin memikat orang yang kita cintai, maka ajaklah ia untuk bertemu, tujuh (7) hari sebelum bertemu, kita pantang (dilarang) makan kecuali hanya memakan ketan, dan pantang (dilarang) minum kecuali hanya meminum teh manis dan air putih.

Selama menjalani tirakat, kita diharuskan bangun disepertiga (1/3) malam untuk mendirikan shalat dua raka'at (shalat sunnah hajat), setelah selesai shalat, kita membaca ajian ini sebanyak 3 kali sambil membayangkan wajah seseorang yang kita cintai (yang kita jadikan target).

Berikut bacaan-nya :

Bismillaahirrahmanirrahiim.

'Keleyeb Insun Percis Arjuna Kelor, Turun Maring Suarga, Oleh-Olehe Pusaka Sadalanang Kuasane, Sabetna Gunung Gugur, Sabetna Segara Asat, Sabetna Bumi Bengkah, Sabetna Langit Tengkeb, Sabetna Atina Cabang Bayi-nya (sebutkan nama target-nya, lebih bagus lagi pakai 'Bin' atau 'Binti'-nya), Mangka Welas Mangka Asih, Awaking Ratu Asihan.'

Lebih bagus lagi jika setelah shalat, dibaca sebanyak mungkin sampai kita tertidur dikasur.

Filosofi memakan ketan ialah agar si target kelak ketika usai bertemu dengan kita, akan merasakan efek-nya, yakni ingin selalu lengket (dekat atau nempel) dengan kita.

Sedangkan filosofi meminun teh manis ialah agar si target kelak ketika usai bertemu dengan kita, akan merasakan efek-nya, yakni selalu terbayang hal-hal yang manis dengan kita.

Ajian ini tidak untuk umum, tidak bisa sembarangan diamalkan, jika memang berminat untuk mengamalkan-nya silahkan hubungi ke nomor 089654875725.

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

"Pengasihan Bulan Purnama."

Oleh : Muhammad Ghozali Siregar (Pengasuh Majlis Ta'lim Wal Mudzakarah Nahdlatul Muta'allimiin).

Pengasihan ini saya namakan 'Pengasihan Bulan Purnama', dikarenakan pengasihan ini diritualkan (dibacakan) mantra-nya (ajian-nya) ketika malam sedang bulan purnama, yakni ditiga malam disetiap bulan-nya.

Pengasihan ini berfaidah (bermanfaat) untuk mendatangkan kembali dan mendekatkan kembali seseorang yang kita cintai ketika mereka sudah berpaling meninggalkan atau menjauhi kita.

Saya dapatkan pengasihan ini dari salah satu teman kerja saya di PT.Setia Kawan Abadi Nutraceutical yang bernama 'Agung' ketika itu di Ruko Taman Palem, Cengkareng. Ia (Mas Agung) mendapatkan dan diajarkan Ajian pengasihan ini dari Almarhum Ayahanda-nya melalui mimpi-nya.

Berikut bacaan-nya :

'Asihan Aing Si Tunjuk Gentur, Tibah Timur Datang Riak, Tibah Barat Naon Nuririk-Ririk Dijero Manik, Naon Nuherang-Herang Dijero Mata, Topeta Naon Ngarana, Manik Aing Manik Asihan, Nele Angin Sia Cerik, Nele Bulan Sia Kelar, Rumiuk Rumingkang, Rumangeak Balik Dei Atina Si (Sebutkan Nama-nya, lebih bagus jika dengan 'Bin' atau 'Binti'-nya) Ke Awaking.'

Baca sebanyak 3 kali sambil memandang bulan purnama, dan bayangkan bahwa bulan purnama itu adalah wajah si orang yang kita jadikan target atau sasaran.

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

Senin, 17 Februari 2020

"Dalil Santri Memakaikan Sendal Untuk Sang Guru."

Oleh : Al-Ustadz Nanal Ainal Fauz, Lc (Ketua Yayasan Turats Ulama Nusantara).

Dalam Kitab Fathul Muta'al Fii Madhi An-Ni'al, Al-Imam Ahmad Bin Muhammad Al-Maqqari Attilimsani meriwayatkan suatu hadits dari Al-Imam Ibnu 'Asakir dengan sanad muttashil hingga Sayyidinaa Anas Bin Malik :

أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أراد أن ينتعل، فقال له رجل: دعني أنعلك يا رسول الله، فتركه، فلما فرغ قال: اللهم إنه أراد رضائي فارض عنه.

Terjemah bebas :

Saat Nabi Muhammad SAW hendak memakai sendal, salah satu sahabat berkata, 'Biarkan saya yang memakaikan sendal ini untuk engkau wahai Rasulullah.'

Rasulullah pun membiarkan-nya.

Kemudian ketika selesai, Rasulullah mendoakan sahabat tadi dengan do'a :

اللهم إنه أراد رضائي فارض عنه

Yaa Allah, dia menginginkan ridha ku, maka semoga Engkau juga meridhai-nya.

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.