Kamis, 13 Februari 2020

"Cara Istri Marah Kepada Suami Yang Sesuai Sunnah."

Oleh : K.H.Ma'ruf Khozin (Direktur Aswaja NU Center, Jawa Timur).

Mengaji Kitab Shahih Bukhari di Masjid Manarul Ilmi ITS tadi pagi (15 Januari 2020) sampai pada hadits No.302, diantara isi hadits tersebut bahwa wanita berpengaruh dalam menghilangkan kecerdasan laki-laki.

K.H.Hasyim Muzadi sering dawuh (berbicara) bahwa lelaki yang pandai jika dimarahi oleh istri-nya maka akan hilang kepandaian-nya.

Mengapa istri sampai marah kepada suami padahal tak jarang suami-nya adalah orang terpandang, berpangkat, atau bahkan Kiai??

Ada satu maqalah dalam Kitab Tasawuf Nuzhatul Majalis :

".إذا صدقت المحبة سقط الأدب"

Artinya : "Jika cinta sudah benar-benar terbukti, maka gugurlah etika."

Jika banyak wanita kepada laki-laki tersebut menaruh hormat, setiap lewat didepan-nya pakai 'permisi', dan etika lain-nya, maka hal itu tidak berlaku bagi istri. Karena cinta dari istri sudah tidak diragukan lagi.

Tetapi bagaimanakah marah yang dicontohkan oleh istri Rasulullah SAW?? Berikut penjelasan-nya :

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬَﺎ، ﻗَﺎﻟَﺖْ: ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝُ اﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: «ﺇِﻧِّﻲ ﻷََﻋْﻠَﻢُ ﺇِﺫَا ﻛُﻨْﺖِ ﻋَﻨِّﻲ ﺭَاﺿِﻴَﺔً، ﻭَﺇِﺫَا ﻛُﻨْﺖِ ﻋَﻠَﻲَّ ﻏَﻀْﺒَﻰ» 

Kata Aisyah RA, bahwa Nabi SAW, berkata kepada-nya : "Aku tahu kapan kau senang kepada ku dan kapan kau marah pada ku."

ﻗَﺎﻟَﺖْ: ﻓَﻘُﻠْﺖُ: ﻣِﻦْ ﺃَﻳْﻦَ ﺗَﻌْﺮِﻑُ ﺫَﻟِﻚَ؟ 

Saya bertanya : "Dari mana engkau tahu??"

ﻓَﻘَﺎﻝَ: " ﺃَﻣَّﺎ ﺇِﺫَا ﻛُﻨْﺖِ ﻋَﻨِّﻲ ﺭَاﺿِﻴَﺔً، ﻓَﺈِﻧَّﻚِ ﺗَﻘُﻮﻟِﻴﻦَ: ﻻَ ﻭﺭﺏ ﻣﺤﻤﺪ، ﻭَﺇِﺫَا ﻛُﻨْﺖِ ﻋَﻠَﻲَّ ﻏَﻀْﺒَﻰ، ﻗُﻠْﺖِ: ﻻَ ﻭَﺭَﺏِّ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴﻢَ " 

Nabi menjawab : "Jika kau senang pada ku maka kau akan berkata, 'Demi Tuhan-nya Muhammad'. Jika kau marah maka kau berkata : 'Demi Tuhan-nya Ibrahim'.

ﻗَﺎﻟَﺖْ: ﻗُﻠْﺖُ: ﺃَﺟَﻞْ ﻭَاﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ، ﻣَﺎ ﺃَﻫْﺠُﺮُ ﺇِﻻَّ اﺳْﻤَﻚَ

Saya (Aisyah RA) berkata : "Benar wahai Rasulullah. (Jika saya marah) saya hanya meninggalkan nama mu."

[H.R.Bukhari].

Jadi marah-nya istri yang sesuai Sunnah adalah cukup tidak menyebut nama suami. Jika istri sampai pergi meninggalkan rumah maka marah yang keluar dari Sunnah.

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

Rabu, 12 Februari 2020

"Do'a Pengasihan Malaikat Jibril AS."

Oleh : Baginda K.H.Rizqi Dzulqarnain Ashmat Albatawi, MA (Mu'assis Yayasan Al-Mu'afah, Jln.Tipar Cakung).

Do'a Pengasihan (mahabbah) untuk menundukkan hati penguasa zhalim, atasan, pemiutang yang jahat, penagih hutang yang keterlaluan, bahkan wanita yang kita cintai.

Al-Imam Addailami menyebutkan, 'Pada suatu kesempatan Nabi Muhammad SAW, bersabda, 'Maukah kau aku ajarkan do'a yang pernah malaikat Jibril AS ajarkan pada ku?? Ketika kau mempunyai hajat pada orang yang sangat pelit, atau penguasa zhalim, atau orang berhutang yang jahat, maka bacalah do'a ini : 

"اللَّهُمَّ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَبِيْرُ وَأَنَا عَبْدُكَ الضَّعِيْفُ الذَّلِيْلُ الَّذِيْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ، اللَّهُمَّ سَخِّرْ لِيْ فُلَاناً كَمَا سَخَّرْتَ فِرْعَوْنَ لِمُوْسَى وَلَيِّنْ لِيْ قَلْبَهُ كَمَا لَيَّنْتَ الْحَدِيْدَ لِدَاوُدَ فَإِنَّهُ لَا يَنْطِقُ إِلَّا بِإِذْنِكَ نَاصِيَتُهُ فِيْ قَبْضَتِكَ وَقَلْبُهُ فِيْ يَدِكَ جَلَّ ثَناَءُ وَجْهِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ."

Artinya : "Yaa Allah sungguh Engkau Maha Perkasa, Maha Besar, sedangkan saya hamba Mu yang sangat hina lagi dina yang tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Engkau. Yaa Allah, tundukkanlah (sebut nama-nya) pada ku sebagaimana Kau telah menundukkan Fir'aun pada Musa. Dan luluhkanlah hati-nya untuk ku sebagaimana Kau telah meluluhkan besi untuk Dawud. Karena sungguh dia takkan berbicara kecuali dengan izin Mu, ubun-ubunnya dalam genggaman Mu, dan hati-nya ditangan Mu. Pujian Wajah Mu telah agung, wahai Dzat yang lebih sayang daripada para penyayang."

Adapun sanad yang Muttashil (bersambung) kepada Al-Imam Addailami dan berestafet kepada Rasulullah SAW sebagai berikut :

الفقير غزالي حسن سيراغر المنديلي عن الحاج رزقي ذو القرنين اصمت البتاوي عن العلامة المعمر السيد أحمد بن أبي بكر الحبشي عن الشيخ عمر حمدان المحرسي عن الشيخ احمد بن عبد الرافع الطهطاوي عن الشيخ احمد بن محمد البهى الطنطاوي عن الحافظ مرتضى الزبيدي عن الشيخ خليل المرادي الدمشقي عن الشيخ احمد بن ابراهيم الرسمي الكريدي عن الشيخ احمد بن محمد المنيني عن ابيه عن الحافظ محمد بن علاء الدين البابلي عن الشيخ احمد بن محمد بن محمد ابي العافية الشهير بابن القاضي المغربي عن الشمس محمد بن احمد الرملي والامام القرافي والعلقمي والغيطي جميعهم عن الجلال السيوطي عن الجلال ابن الملقن عن البرهان التنوخي عن سليمان بن حمزة عن الضياء المقدسي عن ابي موسي المديني عن أبي شجاع شيرويه بن شهردار بن شيروية الديلمي قال : أخبرنا أبو منصور العجلي ، أخبرنا أبو طالب العشاري ، أخبرنا الحسين بن عبد الله المقريء المعروف بابن أبي علانة ، حدثنا عيسى بن حامد بن بشر بن عيسى القنبيطي ، حدثنا أحمد بن موسى ، حدثنا أبو الدرداء عبد الله بن عبد السلام ، حدثني القاسم بن كثير ، عن أبي معمر ، عن أنس ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعمر بن الخطاب : "ألا أعلمك ما علمني جبريل ، إذا كانت لك حاجة إلى بخيل شحيح ، أو إلى سلطان جائر ، أو غريم فاحش تخاف فحشه ، فقل : اللهم إنك أنت العزيز الكبير ، وأنا عبدك الضعيف الذليل ، الذي لا حول ولا قوة له إلا بك ، اللهم سخر لى فلانًا ، كما سخرت فرعون لموسى ، ولين لى قلبه ،كما لينت الحديد لداود ، فإنه لا ينطق إلا بإذنك ، ناصيته في قبضتك ، وقلبه في يدك ، جل ثناء وجهك يا أرحم الراحمين."

[Kitab Ittihaful Amajid Bi Nafa'isil Fawa'id, karangan Al-Qadhi Abu Munyah Assakunji Attijani, Jilid II, Hal.253].

Dibaca sebanyak 3 kali setelah shalat fardhu, atau dibaca setelah shalat Qiyamullail (Tahajjud).

***

Saya (Ghozali) mendapatkan Ijazah dari Baginda K.H.Rizqi Dzulqarnain Ashmat Albatawi, MA, melalui pesan WhatsApp, pada 12 Februari 2020, pukul 20:13 - 23:31 WIB.

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

Minggu, 09 Februari 2020

"Hukum Suami-Istri Bercerai Karna Beda Manhaj."

Oleh : K.H.Ma'ruf Khozin (Direktur Aswaja NU Center, Jawa Timur).

Saya agak 'geram' dengan persoalan ini. Kalau cuma sekedar tuduhan Syirik, dianggap Bid'ah, penghuni neraka, dan lain-nya sudah biasa keluar masuk ditelinga. Namun tidak sampai merusak hubungan suami-istri.

Kali ini dengan senjata baru bernama 'Manhaj' (tidak semadzhab, beda dalam memahami cara beragama) menyebabkan istri minta cerai kepada suami. Manhaj itu sebenar-nya kelanjutan dari tuduhan Bid'ah diatas.

Saya belum mendapat penjelasan 'ulama bahwa beda Manhaj itu termasuk hal-hal yang memperbolehkan wanita meminta cerai atau gugat cerai kepada suami-nya, seperti (1) Tidak memberi nafkah, (2) Meninggalkan istri dalam waktu lama, (3) Suami memiliki aib dan sebagai-nya.

Karena belum ada penjelasan, maka saya (K.H.Ma'ruf Khozin) khawatir gugatan cerai karena beda Manhaj ini tergolong dalam hadits :

ﻋَﻦْ ﺛَﻮْﺑَﺎﻥَ، ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ: «ﺃَﻳُّﻤَﺎ اﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺳَﺄَﻟَﺖْ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻃَﻼَﻗًﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺑَﺄْﺱٍ ﻓَﺤَﺮَاﻡٌ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺭاﺋﺤﺔ اﻟﺠَﻨَّﺔِ»

Artinya : "Dari Tsauban, bahwa Rasulullah SAW, bersabda : 'Jika ada wanita yang meminta cerai kepada suami-nya tanpa kesalahan, maka haram bagi-nya semerbak harum surga.'"

[H.R.Tirmidzi dan Abu Dawud].

Memisahkan pasangan sah suami dan istri (tanpa sebab yang dibenarkan dalam Islam, beda Manhaj ini tidak ada penjelasan-nya) sebenar-nya adalah tugas makhluk ghaib lain-nya, namun sudah diambil alih oleh manusia :

ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮٍ، ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: " ﺇِﻥَّ ﺇِﺑْﻠِﻴﺲَ ﻳَﻀَﻊُ ﻋَﺮْﺷَﻪُ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻤَﺎءِ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺒْﻌَﺚُ ﺳﺮاﻳﺎﻩ، ﻓَﺄَﺩْﻧَﺎﻫُﻢْ ﻣِﻨْﻪُ ﻣَﻨْﺰِﻟَﺔً ﺃَﻋْﻈَﻤُﻬُﻢْ ﻓِﺘْﻨَﺔً، ﻳَﺠِﻲءُ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻢْ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ: ﻓَﻌَﻠْﺖُ ﻛَﺬَا ﻭَﻛَﺬَا، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ: ﻣَﺎ ﺻَﻨَﻌْﺖَ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺠِﻲءُ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻢْ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ: ﻣَﺎ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﻓَﺮَّﻗْﺖُ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ اﻣْﺮَﺃَﺗِﻪِ، ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻴُﺪْﻧِﻴﻪِ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ: ﻧِﻌْﻢَ ﺃَﻧْﺖَ "

Artinya : "Dari Jabir, bahwa Rasulullah SAW, bersabda : 'Iblis meletakkan singgasana-nya diatas air. Lalu ia mengutus para pasukan-nya. Semakin dekat jabatan pasukan iblis itu maka semakin besar tugas-nya. Salah satu pasukan itu melapor kepada iblis, 'Saya sudah melakukan ini dan ini.' Iblis berkata, 'Itu tidak ada apa-apanya.' Pasukan yang lain melapor, 'Saya sudah memisahkan antara seorang suami dan istri-nya.' Iblis itu mendekatkan dia dan berkata, 'Bagus kamu.''"

[H.R.Muslim].

•] Wahai Para Istri!!! Jangan pernah meminta cerai atau menggugat cerai suami lantaran suami-nya pengamal Maulid, Tahlilan, Ziarah ke Makam Wali, Pengamal Qunut Shubuh, dll. Karena khawatir sekali tergolong dalam hadits diatas.

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

"Cara Rasulullah SAW Memakan Buah Yang Berbiji."

Jika buah atau makanan yang dimakan ada biji-nya, maka biji (yang buah-nya sudah dimakan) dan buah yang belum disentuh jangan diletakkan dalam wadah yang sama. Jangan pula biji yang keluar dari mulut itu dimuntahkan ditelapak tangan, tapi muntahkanlah dipunggung telapak atau punggung jari tangan, lalu buanglah.

Rasulullah SAW ketika makan kurma maka Beliau meletakkan atau memuntahkan biji kurma dipunggung jari tangan Beliau (jari tengah dan telunjuk), lalu membuangnya.

Al-Hakim Attirmidzi, berkata : "Cara Rasulullah SAW yang demikian itu karena seandai-nya biji yang keluar dari mulut itu Beliau ambil atau letakkan ditelapak atau jari tangan bagian dalam, maka kemungkinan tangan Beliau akan basah dengan air ludah yang menempel dibiji. Beliau tidak mau tangan Beliau yang basah karena ludah lalu dipakai mengambil kurma lagi, ini demi menghormati teman makan, dan agar dibuat pelajaran bagi orang setelah-nya. Karena biasanya teman makan akan merasa 'jijik' bahkan 'mual' jika melihat tangan teman-nya yang kotor karena ludah lalu mengambil makanan yang dimakan bersama. Maka Rasulullah SAW pun mengajarkan, punggung jari untuk membuang sisa makanan, dan bagian dalam jari untuk mengambil makanan yang baru."

Dalam hadits lain, terdapat keterangan yang mendukung penjelasan diatas, bahwa sungguh Rasulullah SAW melarang mengumpulkan kurma dan biji-nya (sisa yang sudah dimakan) dalam satu piring.

Lalu Al-Hakim Attirmidzi, berkata : "Dan sungguh Rasulullah SAW pernah disuguhi sepiring kurma, Beliau pun makan beberapa butir, lalu Beliau membuang biji sisa-nya dengan tangan kiri. Lalu datang seekor burung yang menghampiri biji itu dan lalu memakan atau mengambil-nya."

Berkata Mu'allif (penulis) Kitab ini, 'Dengan dalil dan penjelasan diatas, maka makruh hukum-nya menjilati jari tangan bagi orang yang makan jika belum benar-benar selesai makan-nya. Ini Mafhum dari hadits-hadits diatas.'

[Kitab Al-Barakah Fii Fadhlissa'yi wal Harakah, karangan Al-Imam Jamaluddin Muhammad Bin Abdurrahman Bin Umar al-Hubaisyi, Cetakan Darul Minhaj, Hal.385].

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

Sabtu, 08 Februari 2020

"Hukum Adzan Dilakukan Selain Waktu Shalat."

Oleh : K.H.Ma'ruf Khozin (Direktur Aswaja Center NU, Jawa Timur).

Adzan tidak hanya untuk memberi tahu waktu shalat. Ada beberapa riwayat hadits yang menunjukkan adzan dilakukan selain waktu shalat :

1. Saat Kerasukan.

... فَإِذَا تَغَوَّلَتْ لَكُمُ الْغِيْلَانُ فَنَادُوْا بِالْأَذَانِ ...

Artinya : "Jika ada yang kerasukan Jin atau Setan maka kumandangkanlah adzan."

Al-Hafidz Assuyuthi menyampaikan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Annasa'i dalam Sunan Al-Kubra (No.10791) dan Abu Ya'la (No.2219). Ditegaskan oleh Al-Hafidz Al-Haitsami (3/213) : "Para perawi-nya adalah perawi hadits shahih."

[Kitab Jami' Al-Ahadits, 14/279].

2. Saat Kesusahan.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ : رَآنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَزِيْنًا فَقَالَ : يَا ابْنَ أَبِي طَالِبٍ أَرَاكَ حَزِيْنًا ؟ قُلْتُ هُوَ كَذَلِكَ قَالَ : فَمُرْ بَعْضَ أَهْلِكَ يُؤَذِّنْ فِي أُذُنِكَ فَإِنَّهُ دَوَاءٌ لِلْهَمِّ (رواه الديلمي)

Dari Ali Bin Abi Thalib, ia berkata, 'Nabi melihat ku sedih. Beliau bersabda : "Suruh sebagian keluarga mu adzan ditelinga mu. Sebab itu obat bagi rasa sedih.'"

[H.R.Addailami].

3. Saat Kelahiran.

عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ (رواه احمد وابو داود والترمذي وقال حسن صحيح)

"Saya melihat Rasulullah meng-adzan-i Hasan Bin Ali saat Fathimah melahirkan, dengan adzan shalat."

[H.R.Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi, ia menilai-nya hasan shahih]. 'Ulama Salafi menilai hadits ini hasan dalam Irwa' Al-Ghalil, 4/400.

Dari beberapa hadits inilah 'ulama Syafi'iyah berijtihad dengan metode Qiyas :

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ وَالْمَهْمُومِ وَالْمَصْرُوعِ وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ.

(تحفة المحتاج في شرح المنهاج  - ج 5 / ص 51)

"Terkadang dianjurkan adzan untuk selain shalat, seperti ditelinga bayi yang lahir, orang susah, orang pingsan, orang marah, yang buruk perilaku-nya baik manusia atau hewan, ketika desakan pasukan, ketika tenggelam. Ada yang mengatakan ketika mayit diturunkan ke kubur, diqiyaskan dengan pertama kali lahir didunia, namun saya membantah-nya dalam Kitab Syarah Ubab. Juga ketika kerasukan jin, berdasarkan hadits shahih. Demikian hal-nya adzan dan iqamah dibelakang musafir."

[Kitab Tuhfatul Muhtaj, 5/51].

Sejak kapan ada ijtihad adzan ketika pemakaman?? Mari perhatikan dengan cermat :

الْاِصَابِي (577 - 657 هـ - 1181 - 1258 م) عَلِيًّ بْنُ الْحُسَيْنِ الْاِصَابِي، أَبُوْ الْحَسَنِ: فَقِيْهٌ أُصُوْلِيٌّ، يَمَانِيٌّ. وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْاَذَانَ لِمَنْ يُسَدُّ اللَّحْدَ عَلَى الْمَيِّتِ.

"Ali Bin Husain Al-Ishabi (577-657 H atau 1181-1257 M), Abu Hasan, ahli fiqih, ahli ushul fiqih, berkebangsaan Yaman. Dia adalah yang pertama kali menganjurkan adzan terhadap orang yang memasukkan mayit ke liang lahat."

[Al-A'lam, 4/280].

Dari penjelasan Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami sebenar-nya kita tahu bahwa dalam internal Madzhab Syafi'iyah ada perbedaan pendapat soal adzan ketika pemakaman ini. Bedaznya, dalam madzhab Syafi'iyah diakui sebagai khilafiyah dalam ijtihad, karena memang 'ulama-nya ahli ijtihad semua. Giliran ada golongan anti madzhab dan tidak punya kapasitas ijtihad tiba-tiba mereka mengatakan bahwa adzan ketika pemakaman tidak ada dalam Syari'at Islam. Pahamkan, Akhi-Ukhti?!

Kalau hasil ijtihad dengan metode Qiyas dianggap bukan bagian dari Islam, ya batalkan juga ijtihad tentang zakat profesi karena tidak ada di zaman Nabi, juga jangan berzakat fitrah dengan beras karena diqiyaskan dengan kurma padahal Nabi mengeluarkan zakat fitrah dengan kurma. Dan masalah lain dalam perkembangan ijtihad.

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

Jumat, 07 Februari 2020

"Dalil Kebolehan Pakai Azimat."

Oleh : Al-Habib Musthofa Bin Idrus Al-Khirid.

Diceritakan bahwa sahabat Nabi yang bernama Ibnu Umar RA pernah menggantungkan Jimat pada anak-anaknya.

Abdullah Bin Umar RA mengajarkan bacaan-bacaan pada anak-anaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulis-nya pada secarik kertas, kemudian digantungkan dileher-nya.

[Kitab Ath-Thibbunnbawi, Hal.167].

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.

Selasa, 04 Februari 2020

"Do'a Qabishah Bin Al-Mukhariq."

Oleh : Al-Habib Muhammad Shulfi Bin Abu Nawar Alaydrus, S.Kom (Pimpinan Majlis Ta'lim Nurussa'adah, Joglo).

دعاء قبيصة بن المخارق إذ قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم علمني كلمات ينفعني الله عز وجل بها فقد كبر سني وعجزت عن أشياء كثيرة كنت أعملها فقال صلى الله عليه وسلم أما لدنياك فإذا صليت الغداة فقل ثلاث مرات سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم فإنك إذا قلتهن أمنت من الغم والجذام والبرص والفالج وأما لآخرتك فقل اللهم أهدني من عندك وأفض علي من فضلك وانشر علي من رحمتك وأنزل علي من بركاتك ثم قال صلى الله عليه وسلم أما إنه إذا وافى بهن عبد يوم القيامة لم يدعهن فتح له أربعة أبواب من الجنة يدخل من أيها شاء

Artinya : Do'a Qabishah Bin Al-Mukhariq.

Ketika ia berkata kepada Rasulullah SAW : "Ajarkanlah kepada ku akan kalimat-kalimat yang mana Allah 'Azza Wa Jalla memberi kemanfa'atan kepada ku dengan-nya. Umur ku telah banyak (tua) dan saya lemah dari banyak hal yang dulu saya amalkan."

Maka Rasulullah SAW, bersabda : "Adapun untuk dunia mu maka apabila kamu telah shalat pagi (Shubuh), maka ucapkanlah tiga kali : 

سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم لا حول ولا قوة إلا .''بالله العلي العظيم

Subhaanallaahi Wa Bihamdihi, Subhaanallaahil 'Azhiimi, Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil 'Aliyyil 'Azhiimi.'

(Maha Suci Allah dan dengan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Yang Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yangg Maha Tinggi dan Maha Agung).

Apabila kamu mengucapkan-nya maka kamu aman dari sedih, kusta, sopak dan lumpuh (Stroke).

Apabila untuk akhirat mu maka ucapkanlah : 

اللهم أهدني من عندك وأفض علي من فضلك وانشر علي' .'من رحمتك وأنزل علي من بركاتك

Allahummahdinii Min 'Indika, Wa Afidh 'Alayya Min Fadhlika, Wansyur 'Alayya Min Rahmatika, Wa Anzil 'Alayya Min Barakaatika. 

(Wahai Allah, Tunjukilah saya dari sisi Mu, limpahkan kepada saya dari anugrah Mu, sebarkanlah atas saya dari rahmat Mu, dan turunkanlah kepada saya atas berkah Mu)."

Kemudian Beliau SAW, bersabda : "Adapun apabila seorang hamba memenuhi-nya dengan tidak meninggalkan, maka besok pada hari kiamat dibukakan bagi-nya empat pintu Surga, ia masuk dari mana yang dikehendaki-nya."

[H.R.Ibnu Sunni, dari Hadist Ibnu Abbas RA, didalam Kitab Ihya 'Ulumiddin, karangan Al-Imam Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali].

Adapun sanad Muttashil kepada Imam Al-Ghazali Rahimahullah sebagai berikut :

 الفقير غزالي حسن سيراغر المنديلي عن الحبيب محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس عن الحاج رزقي ذو القرنين اصمت البتاوي عن العلامة المسند الدكتور يوسف عبد الرحمن المرعشلي البيروتي عن العلامة المعمر محمد بن عبد الرزاق الخطيب الحسيني الدمشقي عن العلامة محمد ابي النصر الخطيب الدمشقي عن الوجيه عبد الرحمن بن محمد الكزبري  عن شيخه أحمد بن عبيد الله العطارعن الإِمَام الجراحي وَهُوَ عَن شَيْخه الشَّمْس مُحَمَّد الكاملي وَهُوَ عَن الْعَلامَة الشَّيْخ مُحَمَّد البطنيني وَهُوَ عَن الشَّمْس مُحَمَّد الميداني وَهُوَ عَن الشَّيْخ أَحْمد الطَّيِّبِيّ الْكَبِير وَهُوَ عَن كَمَال الدّين الْحُسَيْنِي وَهُوَ عَن الْجمال بن جمَاعَة وَهُوَ عَن الْبُرْهَان الشَّامي وَهُوَ عَن ابْن الْعَطَّار وَهُوَ عَن إِمَام الْمَذْهَب أبي زَكَرِيَّا النووي عن الْكَمَال سلار الإربلي وَهُوَ عَن الشَّيْخ مُحَمَّد صَاحب الشَّامِل الصَّغِير وَهُوَ عَن الشَّيْخ عبد الْغفار الْقزْوِينِي صَاحب الْحَاوِي وَهُوَ عَن فريد عصره أبي الْقَاسِم عبد الْكَرِيم الرَّافِعِيّ وَهُوَ عَن الشَّيْخ مُحَمَّد أبي الْفضل وَهُوَ عَن مُحَمَّد بن يحيى وَهُوَ عَن حجَّة الْإِسْلَام الْغَزالِيّ رحمه الله.

NB : Jika ingin dibaca bersama (kami) maka menjadi : 

Allahummahdinaa Min 'Indika, Wa Afidh 'Alainaa Min Fadhlika, Wansyur 'Alainaa Min Rahmatika, Wa Anzil 'Alainaa Min Barakaatika. 

(Wahai Allah, Tunjukilah kami dari sisi Mu, limpahkan kepada kami dari anugrah Mu, sebarkanlah atas kami dari rahmat Mu, dan turunkanlah kepada kami atas berkah Mu).

***

Saya (Ghozali) mendapatkan Ijazah dari Gurunda Al-Habib Muhammad Shulfi Bin Abu Nawar Alaydrus, S.Kom melalui pesan WhatsApp, pada 05 Februari 2020, pukul 07:20 - 07:38 WIB.

Penulis : Ghozali Hasan Siregar Almandili.